Dalam pembicaraan mengenai hakikat bahasa ada dikatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang besifat atbitrer. Maksudnya, antara suatu satuan bahasa, sebagai lambang, misalnya kata, dengan sesuatu benda atau hal yang dilambangkannya bersifat sewenang-wenang tidak ada hubungan “wajib” diantara keduanya.
Berikut ini akan dibicarakan beberapa diantaranya:
1. Peniruan Bunyi
Dalam bahasa Indonesia ada sejumah kata yang terbentuk sebagai hasil peniruan bunyi. Maksudnya, nama-nama benda atau hal tersebut dibentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya, binatang sejenis reptil kecil yang melata di dinding disebut cecak karena bunyinya “cak,cak,cak-“. Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini disebut kata peniru atau onomatope.
Selain itu, banyak pula dibentuk kata kerja atau nama perbuatan dari tiruan bunyi itu. Misalnya anjing menggonggong, angin menderu, telepon berdering, dll.
Dalam bercerita pun orang seringkali menirukan bunyi-bunyi benda atau hal yang diceritakan, seperti:
- Kudengar bunyi ketukan pintu “tok,tok,tok”, dan sebelum aku bangkit, dia sudah muncul di pintu
Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi itu sebenarnya juga tidak persis sama, hanya mirip saja, mengapa? Pertama, karena benda atau binatang yang mengeluarkan bunyi itu tidak mempunyai alat fisiologis seperti manusia. Kedua, karena sistem fonologi setiap bahasa tidak sama. Itulah sebabnya, barangkali, mengapa orang Sunda menirukan kokok ayam jantan sebagai [kongkorongok], orang Melayu Jakarta sebagai [kukuruyuk], sedangkan orang Belanda sebagai [kukeleku].
2. Penyebutan Bagian
Dalam bidang kesusastraan ada istilah pars pro toto yaitu gaya bahasa yang menyebutkan bagian dari suatu benda atau hal, padahal yang dimaksud adalah keseluruhannya. Misalnya, kata kepala dalam kalimat setiap setiap kepala menerima bantuan seribu rupiah, bukanlah dalam arti “kepala” itu saja, melainkan seluruh orangnya sebagai satu keutuhan. Kebalikan dari pars pro toto adalah totem pro parte; keseluruhan untuk sebagian. Contohnya Indonesia memenangkan medali emas di Olimpiade, yang dimaksud hanyalah tiga orang atlet panahan putra.
3. Penyebutan Sifat Khas
Hampir sama dengan pars pro toto yang dibicarakan diatas adalah penamaan sesuatu benda berdasarkan sifat yang khas yang ada pada benda itu. Gejala ini merupakan peristiwa semantik karena dalam peristiwa itu terjadi transposisi makna dalam pemakaian yakni perubahan dari kata sifat menjadi kata benda. Contohnya: si kikir, si gendut, si kerdil.
Laman
Blog Archive
Sabtu, 29 Mei 2010
PENAMAAN
Diposting oleh
My Inspiration
di
09.28
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Cari Blog Ini
Everything you do, , ,do it with joy. . . .
Everything you do, , ,do it with joy. . . .
1 komentar:
Borgata Hotel Casino & Spa - MapYRO
The Borgata Hotel Casino & Spa is a 경기도 출장마사지 high-end boutique 김제 출장마사지 hotel and casino 부천 출장마사지 located 시흥 출장마사지 in the heart of Atlantic City, New Jersey. Borgata Hotel 동두천 출장안마 Casino & Spa
Posting Komentar