Sabtu, 29 Mei 2010

PENAMAAN

Dalam pembicaraan mengenai hakikat bahasa ada dikatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang besifat atbitrer. Maksudnya, antara suatu satuan bahasa, sebagai lambang, misalnya kata, dengan sesuatu benda atau hal yang dilambangkannya bersifat sewenang-wenang tidak ada hubungan “wajib” diantara keduanya.
Berikut ini akan dibicarakan beberapa diantaranya:
1. Peniruan Bunyi
Dalam bahasa Indonesia ada sejumah kata yang terbentuk sebagai hasil peniruan bunyi. Maksudnya, nama-nama benda atau hal tersebut dibentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya, binatang sejenis reptil kecil yang melata di dinding disebut cecak karena bunyinya “cak,cak,cak-“. Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini disebut kata peniru atau onomatope.
Selain itu, banyak pula dibentuk kata kerja atau nama perbuatan dari tiruan bunyi itu. Misalnya anjing menggonggong, angin menderu, telepon berdering, dll.
Dalam bercerita pun orang seringkali menirukan bunyi-bunyi benda atau hal yang diceritakan, seperti:
- Kudengar bunyi ketukan pintu “tok,tok,tok”, dan sebelum aku bangkit, dia sudah muncul di pintu
Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi itu sebenarnya juga tidak persis sama, hanya mirip saja, mengapa? Pertama, karena benda atau binatang yang mengeluarkan bunyi itu tidak mempunyai alat fisiologis seperti manusia. Kedua, karena sistem fonologi setiap bahasa tidak sama. Itulah sebabnya, barangkali, mengapa orang Sunda menirukan kokok ayam jantan sebagai [kongkorongok], orang Melayu Jakarta sebagai [kukuruyuk], sedangkan orang Belanda sebagai [kukeleku].
2. Penyebutan Bagian
Dalam bidang kesusastraan ada istilah pars pro toto yaitu gaya bahasa yang menyebutkan bagian dari suatu benda atau hal, padahal yang dimaksud adalah keseluruhannya. Misalnya, kata kepala dalam kalimat setiap setiap kepala menerima bantuan seribu rupiah, bukanlah dalam arti “kepala” itu saja, melainkan seluruh orangnya sebagai satu keutuhan. Kebalikan dari pars pro toto adalah totem pro parte; keseluruhan untuk sebagian. Contohnya Indonesia memenangkan medali emas di Olimpiade, yang dimaksud hanyalah tiga orang atlet panahan putra.
3. Penyebutan Sifat Khas
Hampir sama dengan pars pro toto yang dibicarakan diatas adalah penamaan sesuatu benda berdasarkan sifat yang khas yang ada pada benda itu. Gejala ini merupakan peristiwa semantik karena dalam peristiwa itu terjadi transposisi makna dalam pemakaian yakni perubahan dari kata sifat menjadi kata benda. Contohnya: si kikir, si gendut, si kerdil.

Prinsip Pengembangan Kurikulum

1. Prinsip-Prinsip Dasar
Dalam usaha kita mengembangkan kurikulum, ada beberapa prinsip dasar yang harus kita perhatikan agar kurikulum yang kita hasilkan nanti betul-betul sesuai dengan apa yang kita harapkan oleh semua pihak yaitu, sekolah itu sendiri, murid beserta orang tua, masyarakat, dan pemerintahan.
Prinsip dasar yang utama yang harus diperhatikan yaitu:
a. Prinsip Relevansi
Secara umum, istilah relevansi pendidikan dapat diartikan sebagai kesesuaian atau keserasian pendidikan dengan tuntutan kehidupan. Dengan kata lain, pendidikan dipandang relevan bila hasil yang diperoleh dari pendidikan tersebut berguna atau fungsional bagi kehidupan.
Masalah relevansi pendidikan dengan kehidupan dapat kita tinjau sekurang-kurangnya dari tiga segi:
• Relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup murid
• Relevansi dengan perkembangan kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang
• Relevansi dengan tuntutan dalam dunia pekerjaan
b. Prinsip Efektifitas
Efektifitas dalam suatu kegiatan berkenaan dengan sejauh mana apa yang direncanakan atau dapat diinginkan dapat terlaksana atau tercapai. Di dalam bidang pendidikan, efektifitas ini dapat kita tinjau dari dua segi, yaitu:
• Efektifitas mengajar guru
• Efektifitas belajar murid
c. Prinsip Efisiensi
Efisiensi suatu usaha pada dasarnya merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dan usaha yang telah dikeluarkan (input). Bila hasil yang kita capai nilainya Rp 800,- sedangkan usaha yang kita keluarkan bernilai Rp 1.000,- maka usaha kita tersebut tidak efisien.
Dalam dunia pendidikan, tentu saja sukar bagi kita untuk membandingkan nilai hasil dan usaha dengan cara seperti yang dipaparkan di atas. Sekalipun demikian, dalam pengembangan kurikulum dan pendidikan pada umumnya, prinsip efisiensi ini perlu kita perhatikan, baik dari efisiensi waktu, tenaga, peralatan yang tentunya akan menghasilkan efisiensi dan segi biaya.
d. Prinsip Kesinambungan (Kontinuitas)
Dengan kontinuitas disini dimaksudkan adalah saling berhubungan antara berbagai tingkat dan jenis program pendidikan.
a) Kesinambungan antara berbagai tingkat sekolah
b) Kesinambungan antara berbagai bidang studi
e. Prinsip Fleksibilitas
Fleksibilitas disini maksudnya tidak kaku, artinya ada semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan di dalam bertindak. Di dalam kurikulum, fleksibilitas disini mencakup fleksibilitas murid di dalam memilih program pendidikan dan fleksibilitas bagi guru dalam pengembangan program pengajaran.

Analisis Kontrastif & Analisis Kesalahan Berbahasa

1. Analisis Kontrastif dan Analisis Kesalahan Berbahasa
A. Analisis Kontrastif (Anakon)
Analisis kontrastif adalah analisa yang digunakan dalam mencari suatu perbedaan yang sering membuat pembelajar bahasa kedua mengalami kesulitan dalam memahami suatu materi bahasa. Aspek analisis kontrastif ada dua, yakni, aspek linguistik dan aspek psikologi (teori belajar).
1) Aspek linguistik adalah berkaitan dengan pemerian bahasa dalam rangka memperbandingkan dua bahasa. Tataran linguistik yang digarap dalam anakon belum merata. Tataran linguistik yang sering digarap dalam anakon antara lain:
a. Bidang fonologi
Bidang ini merupakan bidang yang paling banyak dperbandingkan. Alasannya bahwa peranan aksen bahasa itu sangat besar terhadap B2. Pembanding harus membandingkan bunyi-bunyi segmental dan suprasegmental B1 dan B2, bunyi-bunyi vokoid dan kotoid, bunyi diftong, fonem vokal dan kosonan, alofon yang mungkin terjadi, dan fonotaktik B1 dan B2.
b. Bidang sintaksis
Pembanding dapat membandingkan ciri-ciri pengembangan frase B1 dan B2, pola dasar kalimat B1 dan B2, ciri-ciri kalimat tanya dan perintah, ciri penggabungan kalimat, dan semua yang berhubungan dengan analisis sintaksis secara mikro sebuah bahasa.
2) Aspek psikologi berkaitan dengan perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua yang akan dipelajari siswa diprediksikan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang mungkin dihadapi oleh siswa dalam belajar bahasa kedua. Dasar aspek psikologi dalam analisis kontastif yaitu asosiasionisme dan teori stimulus-respon.
Asiosianisme dapat dibagi menjadi:
a) Asosiasi kontak atau asosiasi hubungan yaitu apabila seseorang mendengar suatu kata maka yang bersangkutan teringat atau terpikir kepada kata yang sering digunakan bersama-sama atau berpasangan dengan kata yang didengar.
Contoh:
• ketika seseorang mendengar kata sendok, maka ia akan teringat pada garpu.
• ketika seseorang mendengar kata kopi, maka ia akan teringat pada susu.
b) Asosiasi kesamaan yaitu apabila seseorang mendengar suatu kata, maka yang bersangkutan segera teringat kata yang bersinonim dengan kata tersebut .
Contoh:
• pintar – pandai
• mati – meninggal.
c) Asosiasi kontras yaitu apabila seseorang mendengar kata atas, maka yang bersangkutan segera teringat atau terpikir kata bawah karena kedua kata itu mempunyai makna yang berlawanan.
Contoh:
• susah – senang
• rajin – malas.
Stimulus responsi, reaksi yang ditimbulkan antara stimulus dan respon atau kebiasaan. Kalau stimulus berlangsung secara tetap maka responsi pun terlatih dan diarahkan tetap. Stimulus adalah suatu rangsangan atau aksi yang menuntut suatu tindakan atau reaksi pada seseorang atau organisme. Responsi adalah perilaku yang timbul sebagai reaksi seseorang terhadap suatu aksi atau stimulus. Penguatan adalah suatu stimulus baru yang mengikuti terjadinya suatu responsi. Stimulus baru dapat membuat responsi yang telah terjadi berulang terjadi lagi atau tidak terjadi. Penguatan yang menunjang suatu responsi berulang kembali disebut sebagai penguatan positif dan sebaliknya.
B. Analisis Kesalahan Berbahasa (Anakes)
Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu cara atau langkah kerja yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa untuk mengumpulkan data, mengidentifikasi kesalahan, menjelaskan kesalahan, mengklasifikasikan kesalahan dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan berbahasa.
Aspek dalam kajian analisis kesalahan berbahasa antara lain:
a. Interferensi
Interferensi ialah pengaruh bahasa ibu (B2) terhadap bahasa baru yang sedang dipelajari (B2).
Contohnya orang Dayak Ma’anyan tidak mengenal fonem /o/ sehingga dalam bahasa Indonesia sering terjadi kesalahan fonem /o/ diucapkan /u/.
b. Dwibahasa
Dwibahasa ialah adanya proses saling mempengaruhi antara B1 dan B2 orang menggunakan/menguasai dua bahasa atau lebih.
Contoh, bahasa Sunda dan bahasa Indonesia (supir, bahasa Sunda) (sopir, bahasa Indonesia).
c. Kesahan bahasa
Kesahan bahasa adalah transfer negatif yang menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran B2 akibat dari sistem yang digunakan berlainan dalam penyampaiannya.

Jumat, 02 April 2010


Cari Blog Ini

My Area | Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all